Click, to translate this blog!

Fellas, you're number

Tampilkan postingan dengan label kwn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kwn. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2013

Kenangan Manis - Nia XIIB/11

Detik terakhir aku menatap wajahnya, air mataku mengalir deras tanpa henti. Ia memelukku dengan erat, seperti memeluk anaknya sendiri, seperti sedang melepas kepergian anaknya. Teringat kembali dalam pikiranku, hari-hari sebelum kami berpisah. Hari-hari yang kami habiskan sebagai sebuah keluarga.
***
 “Ayo pulang! Sudah panas, nanti itu kulitnya hitam seperti bajumu itu!” teriak bapak. Padahal tempatku duduk sudah cukup teduh berkat susunan kayu dan daun yang dirakit oleh bapak untuk menghalangi panas matahari. Matahari juga belum panas betul, tapi bapak tetap bersikeras agar kami segera pulang. Kuturuti kata bapak. Kuletakkan pisauku, lalu aku bangkit berdiri dan membersihkan celanaku yang kotor akan tanah dan kulit singkong. Lalu kami berjalan pulang.
Jarak antara rumah dengan ladang sekitar tiga kilometer. Jarak itu kami tempuh dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan yang hanya dua sisi saja yang mulus, yaitu dua sisi untuk tempat berjalannya roda mobil. Sisanya adalah bebatuan keras dan tajam, yang bahkan tak mampu ditahan oleh sandal jepitku. Ladang bapak letaknya di bagian bawah di sisi jalan, sehingga kami harus naik ke atas untuk mencapai jalan. Naik turun itu tidak mudah, karena batu pijakannya kecil dan agak tajam. Sepertinya bebatuan di sini tajam semua.
Di rumah mamak sedang memomong cucunya yang baru berusia beberapa bulan, sementara menantu perempuannya memasak untuk seluruh anggota keluarga. Dan ketika kami pulang masakannya sudah menunggu di atas meja. Ada ayam goreng, tempe bacem, sayur kangkung, tahu goreng, dan sambel ulek. Sambel itu sempat membuatku minum delapan gelas air, dan membuatku merasa agak sungkan dengan keluarga angkatku itu karena krisis air yang mereka hadapi. Kali ini aku bertekad tidak makan banyak sambel!
Selain ikut bapak ke ladang, kegiatanku yang lain di rumah biasanya tergantung dari apa yang sedang dikerjakan keluargaku. Pernah aku ikut membuat getuk bersama istri Pak Sumar, menantu perempuan bapak dan mamak. Aku pun mencoba memarut kelapa. “Hati-hati itu kalau kena tangan sakit, bisa berdarah,” kata ibu, istri pak Sumar. Belum ada lima menit setelah peringatan diberikan, aku sudah melukai tanganku lebih dari tiga kali. Tidak begitu sakit, tapi berdarah. “Mbak, itu tangannya berdarah tuh,” kata ibu dengan nada agak cemas. “Nggak apa-apa bu, nggak sakit kok,” jawabku berusaha membuat suasana kembali normal. “Ada yang punya obat ndak? Biar dikasih obat itu lukanya.” “Nggak usah bu,” aku mulai sungkan. Sampai akhirnya teman serumahku bilang dia punya plester, dan si ibu kembali tenang.
Suatu ketika aku dan teman serumahku disuguhi kacang dan singkong rebus, dan teh, minuman yang tidak pernah kusukai sepanjang hidupku. Tapi entah sudah berapa gelas teh yang kuhabiskan selama aku tinggal di desa ini. “Ini singkong ya bu?” tanya temanku. “Iya itu singkong rebus, dimakannya sama kacang.” “Hmm… Ini digoreng juga enak lho bu. Kalau di Jakarta biasanya saya goreng,” kata temanku lagi, ia hanya berniat untuk berbagi cerita. Tapi ternyata cerita itu sangat menginspirasi si ibu, sehingga keesokan harinya kami disugihi singkong goreng dan tak lupa dengan teh.
Hari Rabu merupakan kesempatan terakhirku ikut bapak ke ladang. Aku tidak lagi mengupas kulit singkong seperti biasanya, karena semua singkong sudah selesai dikupas kemarin. Jadi hari itu bapak memintaku untuk mengangkat karung berisi kulit singkong kering seberat lima kilogram dan dibawa ke rumah. Kulit singkong ini nanti akan jadi makanan sapi dan kambing. Tidak mudah untuk membawa karung itu, apa lagi ketika aku harus naik dari ladang ke jalan sambil membawa karung itu. Aku menyunggi karung itu dan membawanya berjalan sejauh tiga kilometer. Berat dan melelahkan. Beberapa kali aku menjatuhkan karung itu, dan bapak mengangkatnya kembali ke atas kepalaku. “Sini kalau gak kuat taruh di atas sini,” kata bapak sambil menunduk. Di atas kepala bapak sudah ada satu karung, dan ia menyuruhku menaruh karungku di atas karungnya. “Gak pak, saya masih kuat kok,” kataku mengangkat sendiri karungku ke atas kepala. Dua kilometer lagi, dan kali ini aku tidak menjatuhkan karungku.
***

Kuusap air mataku. Kugigit bibir bawahku, berusaha membendung air mata yang terus mengalir. Masih terasa di lidahku teh manis yang tadi pagi kuminum bersama seluruh anggota keluargaku, minuman kesukaanku sejak aku tinggal bersama mereka. Live in sebentar lagi selesai. Aku akan kembali ke BSD, kembali ke rutinitas awalku. Aku pergi meniggalkan keluarga angkatku. Dengan kenangan manis yang masih terbayang di kepalaku. Kenangan semanis teh.

Senin, 16 September 2013

Pakai hati. Teresia Hanna Sanjaya . XII.IPB. 6


Live in.

Sesuatu yang saya tunggu - tunggu.

Kenapa?

Karna saya tak bisa ikut live in di smp saya dahulu. Sewaktu teman - temank saya yang lain pergi live in, saya sedang duduk termenung di ruang operasi. Yahh, menyebalkan. Saya kehilangan satu pengalaman indah lagi.

Tapi beruntung, ketika saya masuk SMA Santa Ursula, saya mendapati kabar bahwa kelas 12, tiap tahunnya akan pergi live in. Dan disinilah saya sekarang, kelas 12 dan sudah selesai live in.

Menyenangkan? Sangat.

Mengharukan? Cukup.

Sesuai harapan? Tidak.

Banyak hal yang belum saya perbuat untuk keluarga saya disana dan saya sesali itu.

Hari pertama, kedua, ketiga, keempat, jujur, saya tidak mendapatkan sedikit manfaatpun dari live in ini bagi jiwaku, tak ada rasa haru ataupun tangis seperti yang terjadi kepada teman - teman saya. Saya sendiri tak begitu mengerti, tapi saya pun ingin merasakan apa yang mereka alami. Rasa sedih, menyesal, lalu ingin berubah.

Kehidupan itu keras. Itu sudah saya pelajari dari kehidupan orang tuaku, yang masing - masing memulai usaha dari 0 dan jatuh bangun. Jadi, di hari pertama, kedua, ketiga, keempat bersama "keluargaku" yang berada di desa Jati itu, saya tak mendapat banyak.

Banyak hal yang bisa saya pelajari, tapi tak ada yang bisa mengena hati.

Sehingga saya hanya bisa menjalaninya sebagai kewajiban.

Tapi setidaknya, saya mendapatkan banyak pengalaman menarik di live in tersebut. Hari pertama saat saya sampai di desa Jati, pembagian kelompok keluarga pun di lakukan di gereja, beruntungnya pasangan di dalam keluarga saya bukan hanya 1, seperti teman - teman yang lain, namun 3, yakni Jesslyn, Livia, dan Maria. Dan kami pun, mendapatkan keluarga Pak Darmo, yang terdiri dari Ia dan istrinya, Mbak Las, Mbak Tin, suaminya dan anaknya yakni Alifa.

Saya benar - benar tak mengenal Jesslyn, Livia ataupun Maria. Seperti apa sifat dan sikap mereka? Bagaimana kepribadiannya? Dan sebagainya. Sehingga, pendekatan pun harus dilakukan bukan hanya ke keluarga baru saya, namun juga kepada teman - teman saya dari Sanur.

Hari kedua, ketiga, keempat, saya bersama - sama dengan ketiga teman saya melakukan berbagai hal, seperti mengupas singkong, pergi ke pasar dengan truk di jam 3 pagi, memotong / membacok singkong dari akarnya, pergi ke ladang, membantu memasak, bermain dengan sapi dan memberi makan sapi.

Banyak hal yang baru saya alami dan pelajari di sana. Dan banyak pula hal - hal yang saya sudah pelajari di sekolah dan bisa saya lihat dalam keluarga Bapak, seperti asas kekeluargaan mereka yang begitu kuat dibuktikan dari cerita Ibu saya, bilamana salah seorang dari desa tersebut sakit, 1 desa akan berbondong - bondong datang ke rumah sakit, ada pula toleransi antar agama yang bisa dilihat dari Pak Darmo dan anaknya yang berbeda - beda agama tetapi tinggal dalam 1 atap, kerja sama, dsb.

Tapi, saya tak merasa tersentuh. Saya merasa hal itu hebat dan menakjubkan, tapi tak ada haru dalam hati.

Di hari terakhirlah, hari kelima, di saat perpisahanlah, saya baru teringat akan apa yang teman saya katakan, "rasain pakai hati, bukan pakai otak.."

"Ahh.. Rasanya saya sudah merasakan pakai hati.." Tapi saya salah. Terkadang suara hati itu bukan berarti suara yang berasal dari hati dan suara dalam pikiran bukan berarti suara dari logika saya. Akhirnya, saya mencoba memandang mereka lagi, keluarga baru saya, mereka yang begitu perhatian....

Saya memandang mereka, saya langsung sadar..

Selama ini mereka memberikan segala yang terbaik untuk kita, walaupun mereka tak punya banyak, tapi dengan tulus dengan segenap hati, mereka memberikan segala untuk kita.

Air mata saya ikut menetes ketika, bapak dari keluarga saya ikut menangis melihat kepergian kita.


Terlintas di pikiran saya,

"Apa yang telah saya perbuat untuk mereka?"



Sekarang semua hanya rindu, tak bisa melakukan banyak lagi, karna mereka berada benar - benar jauh.
Yang saya dan teman - teman saya tinggalkan hanyalah sebuah surat di balik bantal tanda terimakasih dan berbagai kenangan yang tak seberapa, seperti jepitan rambut, obat - obatan, gelang, kotak pensil. Kami hanya bisa mengerahkan sedikit karna tidak membawa apa - apa..


Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi, sehingga saya bisa membalas ketulusan mereka, dengan ketulusan saya juga.. Karna ketulusan mereka tak sebanding dengan apa yang saya beri dan kerjakan..




Suatu saat nanti, ketika bertemu dengan mereka, dalam diam saya akan membisikkan diri saya,
"pakai hati, han..."

Hingga semua yang saya perbuat akan benar - benar tulus dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Karna sebuah ketulusan disertai cinta kasih, benar - benar tak ternilai harganya.




One Moment in Time

Hari itu akhirnya tiba juga, Sabtu, 31 Agustus 2013, hari dimana diselenggarakannya kegiatan live in SMA Santa Ursula BSD 2013. Tujuan live in kali ini adalah desa – desa di sekitar kabupaten Wonosari, Gunungkidul, D.I.Y yaitu desa Jati, desa Bolang, desa Cwelo, desa Petir, dan desa Pokdadap. Saya masuk dalam kelompok desa Pokdadap bersama teman sekamar saya Jericho. Setelah mengikuti perayaan ekaristi di sekolah, akhinya pada pukul 14.00 kami segera meninggalkan sekolah dengan menggunakan bus. Ada 4 bus yang kami gunakan, dan saya ada di bus 4, bus yang berisi semua murid laki-laki sehingga suasana bus sangat ramai karena ada yang menyanyi-nyanyi, ngobrol, dan lain-lain.
 Sepanjang perjalanan teman-teman di bus 4 termasuk saya semua bernyanyi untuk menghilangkan rasa bosan. Ditambah lagi pak kondektur menyetel lagu-lagu karaoke di bus sehingga kami tak henti-hentinya bernyanyi hingga malam tiba. Sekitar pukul 21.00 tidak ada lagi yang menyanyi lagi mungkin juga karena sudah lelah dan banyak yang sudah tertidur. Setiap 2-3 jam sekali bus berhenti pada sebuah restoran atau tempat pemberhentian lain untuk para siswa yang ingin membeli snack atau pergi ke toilet. Perjalanan berlanjut hingga akhirnya esok hari pun tiba juga.
Sekitar pukul 06.30, saya terbangun dan melihat sepanjang jalan melalui kaca bus. Ternyata kami sudah memasuki Wonosari. Pak Teddy pun membangunkan kami semua katanya sekitar jam tujuh lewat kami akan tiba di Paroki Wonosari, tujuan utama kami. Waktu pun berlalu, dan akhirnya sekitar 07.10 kami tiba di Paroki Wonosari. Disana kami dipersilahkan untuk yang mau gosok gigi, cuci muka dan lain-lain. Disitu juga kami sudah disediakan sarapan khas Wonosari. Kami semua baik siswa pria maupun wanita menikmati hidangan yang sudah disediakan itu.
Selesai sarapan, sekitar pukul 08.00 kami mendapat kata sambutan dari seorang Romo di gereja itu yaitu Romo Anton. Setelah kata sambutan, romo memberi berkat Tuhan kepada kami agar kami tetap selamat dan kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun. Setelah itu, hp, snack – snack yang kami bawa mulai dikumpulkan kepada guru pendamping dan truk-truk yang akan membawa kami menuju desa kami pun tiba di paroki. Semua murid per desa mulai memasuki truk-truk yang disediakan sesuai dengan tujuan desa masing-masing.
Truk yang membawa kami para siswa lelaki yang menuju desa Pokdadap pun mulai meninggalkan paroki Wonosari dan mulai mengantar kami ke desa kami masing-masing. Ada yang turun di desa Pokdadapnya, ada pula yang turun di dusun-dusun di Pokdadap, seperti saya dan Jericho, dan juga Rangga dengan Anthony. Saya dan Jericho di dusun Ngenep, sementara Rangga dan Anthony di dusun Mojo. Dan yang membuat saya dan Jericho cukup terkejut ternyata rumah live in saya adalah rumah dari supir truk yang mengantar semua teman saya tadi. Beliau bernama Danar, dan kami memanggilnya dengan panggilan “mas”. Beliau memliki seorang istri dan seorang anak. Istrinya bernama Bu Yanti dan anaknya bernama Axel.
Saya dan Jericho diterima dengan sangat baik di keluarga itu, Mas Danar dan Istrinya sifatnya ramah dan mau menerima kami. Jam makan siang pun tiba, Ibu Yanti mempersilahkan kami untuk makan siang. Menu makanan yang disajikan saat itu adalah sayur khas Wonosari yaitu “sayur lombok”. Sayur itu begitu enak, saya dan Jericho pun menyukai sayur itu sampai-sampai sayur semangkuk itu pun habis oleh kami (rakusnya kami ckck). “maaf ya, kalo di desa makannya itu seadanya” ujar bu Yanti sambil tersenyum. Padahal kami tidak merasa makanan yang disajikan itu seadanya. Menurut kami, makanan yang disajikan ini lebih dari cukup.
Usai makan siang, kami berdua menuju ke kamar kami. “Hari ini belom ada kerjaan, istirahat dulu aja, besok aja kerjanya” ujar mas Danar tiba-tiba. Mendengar itu kami pun cukup kecewa dan bingung apa yang harus dikerjakan sehingga siang itu kami habiskan dengan beristirahat di kamar. Sore hari sekitar pukul 15.30, karena kami merasa jenuh di rumah karena belum ada pekerjaan yang bisa kami kerjakan, kami pun meminta izin mas Danar untuk pergi berjalan ke rumah live in Rangga dan Anthony. Kami berdua pun diizinkan, bahkan tadinya kami mau berjalan kaki malah dipinjami motor oleh mas Danar, “nganggo motor wae gen ra kesel” ujarnya dalam bahasa jawa. Saya yang cukup fasih berbahasa jawa pun mengerti perkataan itu dan menterjemahkannya kepada Jericho. Akhirnya kami pun naik motor berboncengan menuju rumah Anthony dan Rangga yang jaraknya ½ kilometer dari rumah Mas Danar.
Di perjalanan menuju ke sana, ternyata kami berpas-pasan dengan Rangga dan Anthony yang ternyata juga hendak menuju rumah Mas Danar. Saya dan Jericho pun bercerita kepada Rangga dan Anthony bahwa belum ada yang bisa kami kerjakan karena mas Danar belum memberi pekerjaan kepada kami sehingga kami sangat jenuh. Sementara itu Rangga dan Anthony ternyata sudah bekerja membantu ibu asuhnya mengupas kulit singkong yang nantinya akan dikeringkan yang dinamakan gaplek dan bisa diolah menjadi tiwul. Rangga juga menawarkan kepada saya dan Jericho apakah kami mau ikut mereka besok karena esok hari mereka akan menemani ayah dan ibu asuhnya pergi ke ladang untuk panen singkong. Saya dan Jericho pun tertarik untuk ikut serta mereka, karena beranggapan, kami pun belum ada pekerjaan dan juga penasaran bagaimana cara memanen singkong.
Hari menjelang malam, saya dan Jericho pun pulang kembali ke rumah mas Danar. Seusai mandi dan makan malam. Kami pun menemui mas Danar dan meminta izin untuk diperbolehkan membantu ibu dan ayah asuh Rangga dan Anthony pergi ke ladang esok hari. “Boleh aja, gapapa kok wong belum ada kerjaan yang bisa kalian lakukan juga, ikut aja biar dapet pengalaman di ladang. Jangan canggung disini, biasa aja anggap rumah sendiri” tuturnya sambil tersenyum. Sekitar pukul 20.00 kami ke kamar, menulis refleksi adalah kegiatan rutin kami setiap malam. Setelah menulis refleksi dan gosok gigi, kami pun tidur.
Esok harinya setelah mandi pagi dan sarapan, sekitar pukul 08.00 kami pamit untuk menuju ke rumah Anthony dan Rangga. Setelah pamit, kami segera berjalan kaki menuju rumah Rangga dan Anthony. Terlebih dahulu kami berkenalan dengan ayah dan ibu asuh mereka. Ternyata umur ayah dan ibu asuh mereka sudah cukup tua. Ayah asuh mereka bernama Cipto Karji sementara ibu asuhnya bernama Sutampi. Namun karena lebih familiar dengan sebutan “mbah cip” kami memanggil keduanya dengan sebutan “mbah Cip”. Usai berkenalan keduanya segera membawa perlengkapan panen seperti celurit, pacul, dan pungungkil singkong, dan segera mengajak kami pergi menuju ladang singkong mereka.
Perjalanan dari rumah mbah Cip ke ladangnya kira-kira ½ kilometer. Tiba di ladang, mbah putri mengajari cara memanen singkong. Terlebih dahulu patahkan ranting singkong untuk diambil daunnya yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan sayur, kemudian potong separuh batang singkong dengan celurit untuk mempermudah pencabutan, dan yang terakhir dengan menggunakan pengungkil singkong yang berbentuk bambu dan tali yang terikat di bambu itu, lilitkan tali ke batang singkong dalam posisi mengikat, kemudian secara perlahan-lahan angkat bambu pelan-pelan agar singkong tidak patah di dalam, dan singkongpun akan tercabut.
Setelah dicabut, singkong dipotong – potong dari akarnya sehingga terlepas satu persatu dan dimasukkan ke dalam karung yang sudah dibawa untuk dibawa pulang. Setelah dirasa cukup untuk hari ini, mbah kakung Cip menyudahi panen singkong hari ini dan segera mengajak kami pulang. Kami berempat menggendong hasil panen kami setiap orang satu karung dan menuju rumah mbah Cip. Sesampainya di rumah mbah Cip, kami berempat dipersilahkan makan siang oleh mbah putri. Setelah makan siang kami pun tidur-tiduran sambil mengobrol selama satu jam. Setelah itu, kami melanjutkan pekerjaan kami kembali yaitu mengupas kulit singkong hasil panen kami dengan menggunakan sebuah pisau dengan lubang di tengahnya yang disebut lading.
Usai mengupas singkong, saya dan Jericho pun pamit pada mbah kakung dan mbah putrid untuk kembali lagi ke rumah kami. Tadinya mbah putri menyuruh kami untuk tidur di rumahnya saja, namun kami tidak enak dengan mas Danar ayah asuh kami. Kedekatan kami dengan keluarga mbah Cip lebih dekat daripada kedekatan kami dengan keluarga Mas Danar. Namun biar bagaimana pun mas Danar punya tanggung jawab sepenuhnya terhadap kami sehingga kami tidak ingin membuat beliau khawatir apabila kami tak pulang, sehingga kami tetap memutuskan untuk pulang.
Sorenya jam 16.00, Rangga dan Anthony menghampiri rumah mas Danar. Mereka lalu berkenalan dengan mas Danar, istrinya dan anaknya. Mas Danar kemudian mengajak kami berempat esok hari untuk pergi ke ladang miliknya. Ternyata selain berprofesi sebagai supir truk, mas Danar juga memiliki ladang singkong. Di rumah mas Danar, saya dan Jericho baru mendapatkan sebuah pekerjaan yang bisa dilakukan besok. Kami berempat pun menyetujui hal tersebut. Rangga dan Anthony pun pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30.
Esok harinya sekitar jam 07.00, setelah mendapatkan izin dari ayah dan ibu asuhynya, Rangga dan Anthony sampai di rumah mas Danar. Usai mandi, saya, Jericho, Rangga, dan Anthony segera menyantap sarapan yang telah disediakan oleh Bu Yanti. Usai sarapan, kami berempat serta Mas Danar, istri serta anak segera pergi menuju ladangnya. Kami kesana dengan mengendarai sepeda motor karena letak ladang mas Danar yang cukup jauh yaitu sekitar 4-5 km. Sesampainya di sana kami langsung membantu mas Danar memanen singkong. Karena kami bisa dikatakan “sudah mendapatkan ilmu” cara memanen singkong dari mbah Cip, kami sudah tak perlu diajari lagi dan bekerja dengan cepat.
Usai panen, kami dihidangkan teh hangat dan air kelapa oleh mas Danar. Kami juga membantuk mengupasi kulit singkong di ladang. Sampai di rumah, saya dan Jericho berisitrahat siang di kamar, sementara itu Rangga dan Anthony kembali ke rumahnya. Sore Harinya ada perayaan ekaristi di kapel pok dadap. Dimulai pukul 16.00. Usai mandi, dan sarapan, saya, Jericho dan keluarga mas Danar bersiap-siap menuju kapel. Rangga dan Anthony pun datang ke rumah kami dan kami berempat serta keluarga mas Danar pergi ke kapel menaiki bus yang sering digunakan kakak mas Danar yang berprofesi sebagai supir bus.
Perayaan ekaristi di Kapel pun berlangsung. Misa dilaksanakan dengan menggunakan bahasa jawa kromo yang begitu sukar untuk kami mengerti, namun kami tetap bisa mengikuti sedikit demi sedikit karena tidak berbeda jauh dengan misa pada umumnya. Seusai misa, ada refleksi per kelompok yang dipimpin oleh guru pengawas. Kami semua menceritakan pengalaman sehari-hari yang kami lakukan di desa pok dadap. Saya dan Jericho mempersilahkan mas Danar pulang duluan karena takut merepotkan harus menunggu kami. Sehingga kami untuk pulang nanti harus berjalan kaki.
Seusai refleksi, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Saya, Jericho, Evan, Kumara, dan Christo menempati rumah live in yang jaraknya cukup jauh dengan kapel sehingga kami berjalan kaki cukup jauh di malam hari yang sangat gelap itu. Penerangan kami hanya pada senter. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami semua selamat sampai di rumah masing-masing. Hari esok saya dan Jericho pergi ke rumah Anthony dan Rangga untuk membantu panen singkong mbah Cip lagi dan mengupas kulit singkong. Setelah itu beristirahat siang dan malamnya Chrito, Evan, Anthony, dan Rangga mendatangi rumah saya untuk sekedar kumpul bareng, dan main kartu. Ngeteh serta menyantap snack-snack yang sudah disiapkan mas Danar. Pukul 20.00 mereka semua pulang dan saya dan Jericho pun beristirahat malam kembali.
Esoknya, Kamis, 5 September 2013. Itu adalah hari dimana kami harus meninggalkan desa dan orang tua asuh kami masing-masing. Hari itu adalah hari akhir dari live in kali ini. Usai mandi dan sarapan saya pun meminta izin kepada mas Danar untuk pergi ke rumah mbah Cip untuk berpamitan pada mereka untuk segera pulang ke BSD. Sampai di rumah mbah Cip kami berempat bersama Rangga dan Anthony yang sudah bersiap-saip juga segera pamit kepada mbah kakung dan mbah putri. Kami berempat mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada mereka karena sudah mau menerima kami berempat dan menganggap kami berempat seperti anaknya sendiri. Mbah putri pun menangisi kepergian kami. Setelah berpamitan kami berempat segera kembali lagi ke rumah mas Danar.
Di rumah mas Danar, saya dan Jericho dan juga Rangga serta Anthony berpamitan dengan mas Danar. Kami mengucapkan terimakasih juga kepada mereka atas perhatian yang diberikan mereka selama ini dan kami harus meninggalkan mereka. Usai berpamitan kami berempat diangkut dengan truk dengan mas Danar sebagai supirnya. Hal ini mengingatkan saya pada saat awal datang kesini saya tidak menyangka bahwa bapak asuh saya adalah mas Danar. Lalu mas Danar menjemput setiap siswa laki-laki tiap desa dan segera mengantar kami semua berkumpul kembali ke Paroki Wonosari untuk mendapatkan makan siang dan berdoa mohon keselamatan dalam perjalanan kembali ke BSD.
Setelah semua telah dilakukan, pada pukul 12.30. Kami semua segera memasuki bus masing-masing dan bus pun mulai berangkat menuju BSD. Sama seperti waktu berangkat, bus 4 masih ramai. Bernyanyi-nyanyi, bercanda ria, saling berbagi pengalaman dan lain-lain. Meski bus banyak melakukan pemberhentian, namun tak terasa esok paginya sekitar jam 06.00 kami sudah tiba di BSD. Puji Tuhan kami kembali dengan selamat di sekolah kami. Dari kegiatan live in kali ini, saya belajar tentang daya juang, penghargaan serta perlunya sebuah keluarga dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

                                                                                                            Yohanes Andy.


It's Not That Bad After All
Ancilla Dewi XII IPB - 1


Live in. Dua kata yang sebenarnya aku tidak ingin jalani dan sangat ingin kuhindari. Tapi semua perasaan itu telah berubah.
*  *  *  *
“Siapa namanya? Dilla?  Jilla? Mbak Jilla?”
“Cilla Bu Cilla, pake C” kataku sambil membentuk huruf C dengan jari-jariku.
“Iya, Cilla… Cilla…”
Lagi-lagi aku harus mengulang namaku. Itu Ibuku, Ibu Lestari namanya. Biasa kupanggil Bu Tari atau terkadang Mbok Tari. Ia menjadi ibu angkatku selama aku live in di Dusun Jati ini. Ya, Ia memang sering sekali lupa namaku dan juga teman serumahku, Jane.
“Ayo wedangnya diminum dulu, nanti dingin” mungkin ini adalah kalimat yang sangat sering ku dengar selama live in.
“Iya bu, iya” dan selalu saja aku tidak bisa menolaknya.
Ini hari ke-4 aku tinggal di rumah Bu Tari bersama anaknya Wahyu dan Mbah Painem. Saat ini aku, Jane, ibu, dan mbah sedang ‘ngaso’ sambil ngwedang. Ini adalah kegiatan kami setiap kali kami baru kembali dari ladang singkong. Untuk apa kami ke ladang? Kami ke ladang untuk membantu ibu kami ini. Mulai dari mencabut singkong, mengupasnya, mengumpulkan singkong dan kulitnya yang telah dijemur dan sudah kering, hingga mengambil dedaunan untuk pakan sapi dan kambing. Jujur, aku sangat salut dengan Ibuku ini. Kami disini berdua membantu yang tidak terlalu berat saja sudah kelelahan, sedangkan biasanya ia mengerjakan ini semua sendirian.
            Hari ke-4 aku di sini. Aku tak akan berkata bahwa 4 hari ini terasa cepat, tidak akan. 4 hari ini terasa lama bagiku, sangat. Tunggu, jam berapa ini? Jam 12 kira-kira. Sungguh aku bosan di rumah sehingga aku dan Jane sepakat untuk pergi dengan alasan “aku mau pergi dulu, ada pertemuan bu.” Padahal kami ingin main dan sebenarnya pertemuan ini dilaksanakan jam 1.
            Di pertemuan atau refleksi kelompok, kami disarankan untuk lebih terbuka dan mendekatkan diri dengan keluarga kami di sini. Dan aku akui, aku merasa aku dan keluargaku ini, belum dekat. Aku akui juga aku memang sulit untuk beradaptasi dengan orang-orang baru. Dan aku putuskan, setelah pulang nanti aku akan lebih membuka diri.
            Kami pulang dan mendapati Bu Tari sedang memasak sesuatu. Setelah kudekati ternyata Ia sedang menggoreng kripik pisang yang memang ia janjikan akan ia buatkan untukku dan Jane untuk dibawa pulang ke rumah besok. Dan sesuai dengan keputusanku untuk lebih membuka diri dan menjadi diriku yang sebenarnya sekarang dan kumulailah diriku yang ‘aktiv’ ini.
“Bu, aku mau coba goreng~” kataku.
“Bisa nggak?”
“Bisa, bisa” kataku yang sebenarnya juga tidak yakin.
Lalu aku mulai menggorengi kripik pisang itu. Beberapa kemudian aku menangis. Bukan, bukan karena sedih atau terharu tapi karena asap dari tungku yang menyerang mataku.
“aduh bu, mataku bu~ jadi nangis~” aku akui saat diriku yang aktif ini ‘agak’ terlihat kesan manja. Dan akhirnya dengan keluhanku itu Jane mengipasi aku/asap dengan kipas bambu yang besar. Sesekali kulihati kakiku di sebelah api tungku. Ternyata bulu kakiku sudah mulai mengkeriting sehingga aku berdiri dan Ibu menggantikanku menggoreng kripik itu.
            Kesibukan kami pun berganti, Jane memutuskan untuk mandi dan aku mulai bermain-main dengan ayam-ayam beserta itik-itik yang bekeliaran di belakang rumah. Yang kumaksud dengan bermain dengan ayam-ayam ini adalah aku mengejar-ngejar mereka. Dan akhirnya aku berhenti karena ada ayam yang mungkin marah dan hampir mematok kakiku.
           Setelah beberapa lama Jane selesai mandi dan ikut denganku bermain di halaman belakang. Tiba-tiba suatu hal melintas di benakku. “Bu! Sapinya kalo dipeggang ngamuk ga?” kataku tiba-tiba yang mungkin membuat Jane juga heran karena ia bertanya “lu mau megang sapinya?” dan setelah mendengar jawaban Ibu yaitu “nggaaa…” aku berjalan dengan pasti menghampiri sapi ibu dan mengelus kepalanya. Mengapa aku tiba-tiba mau pegang sapi? Karena aku teringat kata-kata Ine, teman sekelasku yang berkata “pokoknya gue mau pegang sapi!” dan akhirnya aku terkena kutu sapi. Waktu yang tadinya terasa begitu lama, hari ini aku merasa semuanya berjalan dengan cepat.
 *  *  *  * 
Dari hanya satu hari itu saja aku sudah dapat mendapatkan banyak pelajaran. Mulai dari hal-hal kecil seperti saat aku harus mengulang-ulang menyebutkan namaku yang selalu tak teringat oleh Ibuku, aku harus belajar untuk sabar dan pengertian. Aku belajar untuk terbuka terhadap orang-orang baru. Dan banyak lagi nilai-nilai yang kudapati pada satu minggu aku menjalani live in bersama teman-temanku.
            Memang, pada awalnya aku segan dan dipenuhi kekhawatiran tapi semuanya telah berubah. Banyak orang berkata, saat kita menjalani sesuatu ‘just let it flow’. Dulu aku setuju dengan perkataan itu, namun sekarang aku berubah pikiran karena disini aku belajar untuk tidak hanya membiarkan semuanya terjadi dan hanya membiarkannya mengalir, tapi juga harus mendalami dan juga mengikuti arus itu dengan sungguh-sungguh. Aku ingat menyebutkan bahwa aku ingin live in lagi. Sesuatu yang aku tak suka dan akhirnya setelah kujalani dengan sungguh-sungguh aku bisa berkata, it’s not that bad after all.


Tua Tapi Muda Menyerupai Tua - Christoforus Ristianto XIIB/2

Kehidupan sederhana adalah hal yang pertama Christo dan Evan dapatkan saat mereka datang ke desa Pokdadab dusun Ngenep. Kesederhanaan itu muncul begitu saja tanpa di rencanakan oleh keluarga Bapak Hartikun dan Ibu Sukitin. Kesederhanaan itu sangat di rasakan oleh Christo dan Evan karena di sinilah mereka baru mengenali kehidupan desa yang jauh dari kota.
Hari Minggu sekitar waktu menunjukan pukul 10.30 WIB, Evan dan Christo samapai di dusun Ngenep dan di sambut baik oleh Ibu asuh mereka. Saat itu mereka langsung menuju ke rumah baru mereka, dengan berjalan kaki menuju pasar Ngenep. Di saat perjalanan menuju ke rumah, Christo mengawali pembicaraan.
“ Ibu setiap hari bekerja sebagai apa ?” tanya Christo dengan polosnya. Lalu ibu itu menjawab “ Ya setiap harinya cuman menjadi petani gaplek aja”
. Tak terasa mereka sudah sampai di rumah baru. Rumah itu tidak terlalu buruk untuk ukuran desa, dengan lantai yang beralaskan aspal, batu bata sebagai dinding rumah mereka dan beberapa genting yang terlihat sudah tua sebagai pelindung rumah. Dengan senang hati mereka masuk dan melihat Bapak asuh mereka sedang menonton TV sambil menunggu kedatangan anak asuhnya. Saat itu juga mereka berkenalan dengan Bapak asuhnya nanti yang akan menjaga dan melindungi mereka selama 5 hari. Hari pertama mereka berbincang-bincang di ruang tamu sambil di temani teh hangat dan makanan ringan seperti peyek, kacang, dan lainya.
Evan bertanya “ Pak nanti mau ke ladang jam berapa ?”, dan Bapak menjawab “ Nanti sore”. Sahut Bapak yang menjawab dengan singkat. Lalu Ibu mereka bertanya “ Jam berapa tadi sampai di paroki ?” lalu Evan menjawabnya sekitar jam 08.30 Bu”.
 Sekitar satu jam mereka bertanya-tanya tentang kehidupan keluarga baru mereka, lalu mereka minta ijin untuk istirahat di kamar karena mereka merasa sangat letih akibat perjalanan dari BSD ke Wonosari.
Jam menunjukan pukul 13.30, mereka di bangunkan oleh Ibu.
“ Mas Iwan, mas Christo jadi mau ke ladang tidak ?” tanya Ibu dengan teriak dari luar rumah. Lalu mereka siap-siap dan mengambil topi untuk pergi ke ladang. Saat Ibu mereka memanggil untuk mengajak ke ladang, ada hal unik yang terjadi yaitu sang Ibu memanggil Iwan bukan Evan. Kemudian mereka dan Ibu jalan bersama menuju ladang.
Saat perjalanan mereka selalu bertanya “ Bu, masih jauh ladangnya ?”, lalu Ibu menjawab “ Tidak jauh lagi kok, sudah mau dekat”. Dalam pikiran mereka, makna dari ucapan “ dekat” masyarakat kota dan desa itu berbeda, jika orang kota dekat itu artinya memang sudah mendekati, sedangkan desa arti dari dekat itu masih jauh. Ternyata hal yang mereka pikirkan itu benar, ladang Ibu mereka itu masih jauh dan harus berjalan di lintasan yang cukup berbahaya. Belum sampai ladang, mereka sedikit merasa letih karena cuaca yang sangat panas.
Ibu berkata “ Ah, kalian ini payah, belum sampai ladang sudah capek”. Tak lama kemudian, sampailah mereka di ladang.
Evan pun Bertanya “ Bu, di ladang kita ada siapa ?”. Dalam hati Evan, orang itu sedang mengambil tanaman Ibunya, padahal orang yang di makasudkanya itu adalah Bapak mereka.
Lalu Ibu menjawabnya “ Itu kan Bapak, tadi dia naik motor jadi lebih cepat dari kita.” Jawab Ibu sambil tertawa. Kemudian mereka menghampiri Bapak yang sedang mencabut batang pohon ketela itu untuk mengambil gaplek yang ada di akarnya. Mereka bingung apa yang mau di kerjakan,
Christo bertanya “ Pak, apa yang bisa kami bantu ?”
 Lalu Bapak mempraktikan mencabut batang pohon, dan memotong gaplek dari akar batang pohon itu dengan celurit. Setelah mereka mengetahui cara untuk mendapatkan gaplek itu, mereka langsung mencoba beberapa pohon ketela itu secara individu. Ketika Christo berusaha mencabut salah satu pohon ketela, karena banyak sekali gaplek yang ada di akarnya ia tidak kuat mencabut pohon itu, akhirnya batang pohon itu patah dan susah untuk mengambil gaplek itu. Dengan rasa tanggung jawab yang ada di kepribadianya, ia menggali tanah dengan cangkul dan akhirnya ia berhasil mendapatkan ketela itu. Sekitar 15 samapi 30 pohon ketela berhasil mereka selesaikan, lalu mereka istirahat karena letih. Saat mereka istirahat, mereka lihat Bapak yang umurnya 65 tahun, masih bekerja mengambil gaplek dari awal mereka bekerja samapi sekarang. Sungguh luar biasa tenaga dari Bapak itu, dia sangat kuat tenaganya, sedangkan mereka berpikir seharusnya mereka yang umurnya muda masih bisa bertahan untuk bekerja. Dengan daya juang yang bangkit kembali, mereka melanjutkan pekerjaanya lagi. Sekitar jam 16.00, mereka sangat letih dan ingin minum air kelapa yang ada di samping ladang.
 Akhirnya mereka bertanya pada Ibu “ Bu, boleh tidak kami ambil kelapa itu untuk minum ?” lalu Ibu menjawabnya “ Oh, ambil saja tapi minta ijin dulu sama yang punya.”
 Karena sudah di berikan ijin, mereka cepat-cepat mengambil bambu dan celurit untuk mengambil kelapa itu. Akhirnya, mereka bisa mendapatkan 2 kelapa, lalu mereka meminta Bapak untuk di kupas kulit kelapanya. Setelah dikupas, mereka meminum kelapa itu, dan
Christo Berkata“ Pan, gila segar banget ini, setiap hari kerja ke ladang tapi minum air kelapa terus sih mau gua.”. Tiba-tiba Ibu berteriak “ Ayo pulang, sudah sore ini.”
 Lalu mereka bersama Ibu pulang melewati jalan saat berangkat dan Bapak pulang dengan naik motor.
Akhrinya sampai di rumah, mereka lalu mandi dan minum teh bersama keluarga di depan ruang televisi. Lalu Ibu hendak ke dapur dan memasak untuk makan malam, sedangkan Evan dan Christo dengan asyiknya menonton televisi. Saatnya makan malam, mereka dengan senangnya menyantap makanan sayur lombok, dan telur mata sapi. Setelah makan malam, mereka tidur untuk menyongsong hari esok. Hari esok telah tiba, mereka bangun jam 07.00, dan terlambat untuk membantu Bapak menjual gaplek hasil dari hari kemarin. Akhirnya mereka pergi ke pasar untuk membeli sayur dan mie instan. Habis dari pasar, mereka memasak bersama Ibu dengan pakai kayu yang di bakar.
“ Ah payah kamu, kok tidak bisa, apinya malah mati.” Kata Ibu.
 Mereka bukanya membantu Ibu, malah menyusahkanya dalam memasak. Sekitar setengah jam, api yang tadi tidak bisa hidup, akhirnya hidup juga. Sebuah kegembiraan karena ini baru pertama kali mereka memasak dengan cara yang berbeda. Siang harinya, mereka melakukan pekerjaan dan hal-hal lain yang hampir sama dengan apa yang mereka kerjakan kemarin. Pada hari Selasa sore, mereka dan keluarga pergi ke kapel, Bapak dan Ibu mereka naik motor, sedangkan Evan dan Christo jalan kaki. Setibanya di kapel mereka kumpul bersama teman-teman dari Pokdadab, dan mengadakan acara misa dengan Romo Anton, di lanjutkan dengan refleksi. Sekitar jam 18.30 mereka pulang bersama teman – teman dari Ngenep juga.
Keeseokan harinya, mereka juga melakukan pekerjaan yang tidak terlalu berbeda dengan hari sebelumnya. Namun pada malam terakhir mereka berbincang-bincang dengan orang tua mereka sampai jam 23.00 malam. Banyak hal yang mereka bicarakan, seperti ucapan terimakasih dan bercerita pengalaman hidup orang tua mereka.
Kamis pagi, mereka bangun sangat terlambat yaitu jam 08.00 pagi. Lalu mereka ke luar rumah untuk membersihkan daun-daun yang berserakan di jalan, lalu di bakar. Tiba-tiba Bapak datang
“ Mas Iwan dan Christo, Bapak mau mengucapkan terimakasih selama kalian tinggal di sini, Bapak minta maaf jika ada kesalahan dan semoga nanti tidak lupa sama Bapak dan Ibu kalau sudah jadi orang besar.” Kata Bapak
“ Iya pak, kami juga minta maaf karena kami sering membuat Bapak dan Ibu susah semenjak kami tinggal di sini. Iya pak, kami tidak akan melupakan Bapak dan Ibu.”
Lalu Bapak berkata “ Iya, sekarang saya mau ke ladang dulu, hati-hati di jalan.”
“ Iya pak, terimakasih.” Kata mereka. Setelah itu, Ibu datang dan memberikan kacang goreng dan peyek sebagai oleh-oleh dari kampung. “ Ini bawa untuk makan di bus kalau lapar saat perjalanan. Sekarang mandi dulu, kan jam 09.30 sudah harus ke rumah Pak guru.”
Saat menerima kacang itu, pada hari rabu siang mereka yang mengupas kulit kacang sekitar ratusan kacang yang harus di kupas kulitnya. Ternyata kacang itu untuk oleh-oleh buat mereka. Hal lebih yang medalam yaitu, Ibu mereka memisahkan kacang yang gosong dan yang tidak. Kacang yang gosong diambil oleh Ibu dan di masukan di dalam toples. Ibu itu sangat baik hati, dan mereka tidak akan pernah melupakan hal-hal dan pelajaran yang mereka dapat dari orang tua asuh mereka.

Tepat pukul 08.30, mereka berangkat ke rumah guru bersama Ibu, dan menemui teman-teman Ngenep lainya. kesedihan ada di persasaan mereka masing-masing, ada yang menangis, dan ada yang menahan tangis. Lalu setelah perpisahan di Ngenep, mereka berangkat menuju kapel dan ada acara perpisahan di sana. Setelah semua anak Pokdadab siap, mereka semua pulang ke paroki dan dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke BSD dengan selamat.

Perantauan Kasih

Ini adalah pengalaman live in ku. mungkin berbeda dengan anak- anak lainnya, aku memiliki 
motivasi untuk pergi live in karena satu hari sebelum hari keberangkatan, aku mengalami 
sedikit masalah dalam keluarga saya.

Selama tinggal 4 hari di desa Petir, dusun Dadapan, saya tinggal bersama dengan 
keluarga bapak Sudianto. Sebuah keluarga yang sangat sederhana 
dan juga keluarga yang sangat ramah. Kehadiran
saya dengan teman saya, Wawan, diterima dengan sangat baik. Makanan lezat 
ala Wonosari pun selalu tersedia di saat kebutuhan perut sudah mulai memanggil.
Selain itu, saat malam tiba, sungguh terasa kedekatannya. Kami semua bercanda bersama
meskipun tidak semua yang orag tua angkat saya katakan saya mengerti sepenuhnya.

"Bapak cuma punya ini, jadi maaf ya kalau ada makanan yang mas Yudha sama mas Wawan
kurang suka. Tapi ya adanya cuma ini doang"
Itulah perkataan bapak Sudianto ketika jam makan tiba. Mereka 
sungguh berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi kami meskipun mereka
sendiri masi belum sepenuhnya sungguh terpenuhi kebutuhannya.

Mereka sungguh menganggapku sebagai anak mereka sendiri. Setiap paginya aku
dibangunkan oleh pak Suidanto untuk menyantap teh dan juga sarapan.
Setelah itu aku segera bersiap untuk membantu Pak Sudianto, untuk mengerjakan
pekerjaannya seperti, mencari pakan untuk sapi, memipil jagung untuk pakan ayam,
selain itu aku juga membantu pak Sudianto dalam menjual sapinya.

Aku belajar banyak dari pengalamanku di sini. Dari sini saya bisa merasakan
bagaimana rasanya menjadi orang yang susah. Bapa Sudianto berkata
bahwa di sini kebutuhan pangan mereka selalu terpenuhi dengan adanya hewan ternak
dan juga hasil padi sendiri, tetapi untuk masalah keungan mereka mengalami kesulitan
yang cukup parah. Di sana mereka saling bersaing dalam menjual hasil panennya
masing- masing. Hal ini menyebabkan mereka tidak dapat menghasilkan uang
karena barang yang mereka jual sama.

Pada hari terakhir tinggal dengan mereka, aku berbincang dengan
keluarga angkatku dengan sangat dekat. Aku pun menganggap mereka sebagai
salah satu anggota keluargaku. Aku pun merasa cukup sedih ketika aku menyadari
bahwa besok aku hanya akan bertemu mereka pada pagi hari. Mereka sungguh
menginginkan keberadaan kami di tengah mereka. Mereka rindu dengan
suasan di mana mereka dapat berkumpul bersama dengan anak- anak mereka.
 Kebanyakan dari mereka yang memiliki anak, telah pergi merantu
ke Jakarta.

Pengalaman Live In ku ini akhirnya aku bawa pulang dan aku endapkan.
Aku merasa sangat bersyukur memiliki berbagai fasilitas yang ada. Selain itu
aku juga bersyukur aku masih bisa berada bersama kedua orang tuaku yang
menyayangiku dengan sepenuh hati mereka.

...

"Kita tidak akan menyadari memiliki sesuatu sebelum kita kehilangan mereka. Oleh karena itu bersyukurlah atas apa yang kita miliki sekarang"


Yudha Prawira

Kahyangan Tempat Bernaung - Trianake XIIB/7

“Duh, batunya tajem-tajem banget sih!” Keluhan lagi. Kenapa mulutku ini tidak bisa menahan segala-galanya. Kulihat teman-temanku berhenti sejenak melihatku dan mengiyakan perkataanku. Namun, aku menyesalinya.
“Sebentar lagi, Mbak…” kata Mamak. Mamak Rubiem adalah Ibu angkatku di desa ini. Desa Wonosari ini. Dusun Jati Candiredjo. Ia terlihat rapih. Dengan bandana birunya yang menutupi rambut tipisnya. Ia berjalan lebih cepat daripada kakiku yang lebih panjang dari dirinya. Badannya  yang kurus itu dilapisi celana panjang dan baju ungu yang serasi. Tak kumuh juga tak berlebihan. Sederhana dan tetap ayu.
Kemudian aku menengok ke arah Bapak yang berjalan di belakangku. Seperti biasa ia tersenyum semenjak aku bertemu dengannya. Mungkin sekitar 25 jam yang lalu saat sampai ke rumahnya. Senyumannya itu entah mengapa membuatku tambah menyesali perkataanku. Bapak Budi Prasetyo, suami dari Mamak Rubi, ayah angkatku di desa ini. Dan aku membalas senyumannya, dan sepertinya senyumanku terlihat getir karena kepanasan.
Aku kemudian melanjutkan langkahku yang sempat terantuk sebuah batu tajam tadi saat kami mulai membelok ke arah kiri dan menemui batu-batu tajam pengganti aspal. Panas terik dan sudut yang kulalui semakin miring ke belakang membuat napasku sedikit tersengal. Pikirku, tak terasa sudah hari kedua aku berada di tempat ini. Bersama dengan Bapak dan Mamak pergi untuk meladang di Alas Kahyangan.
Sebelumnya tak kuketahui nama itu, sampai Mamak mengatakan ingin pergi ke Kahyangan. Ya, nama yang begitu mistis bagiku. Memang aku tidak bergidik, tapi membayangkannya saja sudah membuat aku merasa itu adalah nama sastra yang berarti besar dan hikmat. Kulanjutkan perjalananku itu memasuki sebuah jalan yang empat kali lebih sempit dari jalan bebatuan tajam tadi. Astaga.
“Jalannya tambah kecil lagi!” Begini memang jika tidak berpikir sebelum berkata-kata. Lidah tak bertulang, bodoh! Begitu aku mengutuk diriku sendiri lagi yang mengatakannya. Mengeluarkannya dengan sembrono. Tak tahu aturan dan perasaan orang-orang di sekitar. Aku berharap tak lagi keluar kata-kata itu. Aku mau menutup mulutku benar-benar.
Kulihat Bapak tetap tersenyum teduh di belakangku. Melihatnya membuatku semakin menyesali diri sendiri. Namun, aku kembali menyusuri jalan  itu. Begitu sempit, kedua kakiku merasakan tusukan-tusukan rerumputan dan semak-semak yang ramai-ramai menghalangi jalan. Ketika sampai di tempat tujuan matahari telah naik, ia menembus dan menyinari wajahku, tepat di bawah kedua mataku yang teduh karena perlindungan dari topi yang kupakai.
Kuhirup udara dalam-dalam. Masih terasa jantungku berpacu mengalirkan oksigen ke seluruh tubuhku lebih cepat. Topi yang menempel di atas kepalaku terasa basah karena keringat yang cukup banyak. Sedangkan Mamak dan Bapak. Tak nampak di kulit mereka yang terbilang cokelat caramel itu bulir-bulir keringat. Ya, mereka terbiasa. Aku tak terbiasa. Sepintas  hanya hal itu yang kupikirkan. Mereka telah biasa berjalan sejauh itu. Mereka telah biasa menempuh jalan itu. Aku tidak. Diantar dengan mobil, yang didalamnya tersembur udara dingin ketika panas meradang di luar. Hanya duduk. Duduk dan memainkan ponsel “pintar” yang sekarang kusadari membuatku “bodoh”.
Kuhirup lagi udara Alas Kahyangan itu. Tanahnya yang cokelat kemerahan itu seakan begitu kaya menumbuhkan batang-batang singkong yang sudah masak. Sama. Udaranya tak berbeda dengan halaman rumahku. Sama-sama sedikit lembab dan berbau khas tanaman. Tugasku di sana adalah untuk memanen singkong. Memisahkannya dari batangnya dan mengupasnya menjadi gaplek.
“Ora isa, to?” Mamak sedikit tertawa melihatku menghabiskan waktu mengupas satu singkong. Dalam hati aku bersikeras. Belajar. Belajar. Tapi kemudian aku baru menyadarinya dan bertanya pada diri sendiri. Apa yang ingin dipelajari? Sebatas bisa mengupasnya? Atau hal lain?
“’Kan baru belajar, Mak…” Kataku menyahut memberikan senyuman. Entahlah apakah Mamak ingin menyindir aku karena memang aku tidak bisa atau aku anak kota. Sempat ada pikiran yang demikian. Namun, aku lega dengan kata-kataku barusan. Sikapku tadi sekiranya berkenan di hati Mamak. Dan kurasa itu jawaban terbaik guna melepaskan rasa pesimis.
Kulihat lagi Bapak melangkah ke sana kemari membawa batang yang masih ditempeli singkong-singkong besar montok. Dan tak lama setelah itu aku menyelesaikan singkong pertamaku, yang pertama kukupas sejak tiba di Kahyangan – kami lebih enak menyebutnya tanpa “Alas”. Kemudian kuambil lagi sebuah singkong, kali ini ukurannya lebih kecil dari yang tadi. Kira-kira panjangnya sekitar setengah lenganku.
Kemudian kulihat cara Mamak mengupasnya. Aku seperti melihat seorang Chef di salah satu saluran TV kabel yang mengupas bahan makanannya dengan kecepatan tinggi, kemahiran dan kerapihan yang sama. Cepat dan rapih. Aku kagum dan mencoba mengikuti caranya dengan memperhatikannya lekat-lekat. Tak ada barang 30 detik Mamak menyelesaikan satu singkong. Malah kurasa kurang dari 15 detik ia mengerat kulit cokelat singkong itu menjadi singkong putih bergetah itu.
Lama kelamaan aku terduduk begitu saja di depan tumpukan singkong-singkong yang baru dipanen itu. Sembari masih mengupas singkong dengan kekuatan yang agak ekstra aku terdiam tak berbicara. Aku dan tiga rekanku sama sekali tidak berbincang, mengenai apa pun kecuali ketika ada sesuatu hal mengenai pekerjaan yang sedang kami jalani saat itu. Aku terduduk sendirian di atas tanah tanpa menghiraukan celana pendekku yang kuyakin akan kotor nantinya. Topi berwarna pastel itu masih menempel di kepalaku. Setidaknya topi itulah yang melindungi aku dari sinar matahari yang makin lama makin menyengat.

Aku lempar singkong yang sudah kukupas itu. Kemudian dengan agak malas, aku mencondongkan badanku mencoba mengambil singkong lain yang belum dikupas. Kupandang lagi singkong itu, Mamak, Bapak yang ada sedikit jauh dari tempat kami bernaung dan ketiga rekanku. Mamak dan ketiga rekanku duduk di bawah pohon kecil, entah itu pohon apa yang kelihatannya sangat sejuk jika bisa bernaung di bawahnya. Aku yang duduk di atas tanah ini merasa agak menyesal mengapa tidak mengambil posisi itu. Namun, aku bernaung di dalam Alas Kahyangan. Ladang tempat aku disadarkan oleh beberapa hal kecil, sederhana tetapi penting. Ya, kurasa ini cukup karena mungkin aku mengenal lebih dekat dengan Alas Kahyangan dan orang-orang yang telah memupuk tanahnya itu dibanding rekanku yang lain. Namun, aku hanyalah aku. Bukan orang lain sehingga cukup sajalah jika aku melihatku diriku yang mulai terpantul ini.

Desa Cuwelo, Cuwilan Hati - Sheliana S.P. XIIB/5

D-3 hari kepulangan. Saya menunggu dengan tidak sabar untuk pulang. Bukan berarti tidak betah, tapi saya kangen laptop dan internet. Saya betah, sangat betah untuk tinggal di rumah emak. Semua baik, semua enak, dan tidak usah susah-susah berpikir pekerjaan dan uang. Saat itu, saya sedang bekerja mengupas singkong di teras rumah emak Kardinem bersama dengan Sara dan keluarga emak.
            Pukul 13.30 saya dan Sara berjalan bersama Michelle dan Nadia menuju lokasi berkumpul. Seperti hari sebelumnya, kami berkumpul perkelompok desa untuk melakukan sharing. Menurut arahan Mak Ati, kami berjalan lurus dan cukup jauh. Sebelumnya, kami juga sempat menjemput Tiffany dan Lala di rumah Mbah Tuk. kami berjalan cukup lama dan jauh. Akhirnya kami sampai di tempat yang diarahkan Mak Ati. Dan ternyata JENG JENG kami salah tempat. Kami justru sampai di lokasi pertemuan Kelompok Cuwelo B, bukan Cuwelo A.
            Memang, ada 2 orang yang memiliki nama sama. Sehingga, Mak Ati salah memberikan instruksi. Akhirnya kami kembali berjalan ke tempat yang seharusnya. Di tengah jalan kami bertemu dengan Whitney dan Sasa yang hampir salah jalan juga. Tak seberapa jauh, ada gang kecil yang dapat mempersingkat jalan kami menuju tempat pertemuan. Tapi ketika kami mau melewati gang tersebut, di kejauhan terlihat orang yang berjalan dengan aneh. Ke kiri, ke kanan tidak jelas. Ingatlah kami akan cerita tentang ‘orang idiot’ di gang tersebut. LARI! Kami berlari menuju gang satu lagi, dan segera berjalan cepat ke rumah  yang menjadi tempat pertemuan.
            Pertemuan di mulai, dan cerita demi cerita mengalir. Tetesan demi tetesan air mata berjatuhan. Kami mengingat perbuatan kami kepada orang tua mereka di rumah. Betapa kami telah menjadi anak yang egois, dan merindukan kehangatan dalam keluarga kami. Walau tidak semua anak menangis, tapi pikiran dan perasaan kamii menggali lagi kenangan kenangan kami bersama keluarga mereka.
            Kami memang rindu rumah mereka, tapi di satu sisi kami tidak ingin meninggalkan rumah baru kami di Cuwelo dan ibu angkat kami. Orang-orang di Cuwelo terlalu baik bagi kami. Biarpun tidak kenal, kami selalu di sapa, di bantu ini dan itu, diberikan ini dan itu.
“Gue rasa, kita butuh ember dah,” kata saya.
“Hah? Untuk?” tanya Fanny.
“Ini nangis semua sayang tissuenya,” jawab saya.
Ya, begitulah, hampir semua menangis di pertemuan kali itu. Termasuk saya.
            Esok harinya, setelah bulan menunjukkan bintangnya, ada latihan koor di Kapel. Awalnya saya dan Sara tidak ikut pergi karena Michelle dan Nadia juga tidak pergi. Tiba-tiba... TOK TOK
“Mbak Saraaa” panggil seseorang di depan pintu.
“Eh, Sar ada orang di depan,” kata saya kaget.
Saya pun berjalan membuka pintu. Ternyata ada Mbak Tanjung dan Mas Andri di depan pintu.
“Eh mbak, disuruh dateng latihan koor. Semuanya udah pada dateng,” kata Mbak tanjung.
“Oh. Sar kita disuruh latihan koor,” kata saya sambil berjalan ke arah Sara.
“Oh? Michelle sama Nadia juga dateng?” tanya Sara.
“Iya mereka udah nyampe tadi naik motor,” jawab Mbak Tanjung.
Sara dan saya pun segera memakai jaket dan mengambil senter, lalu jalan bersama Mbak Tanjung ke Kapel. Sedangkan Mas Andri naik motor dan pergi duluan.
            Di kapel, ternyata orang-orang Cuwelo yang hadir telah menyiapkan acara perpisahan untuk kami. Mereka menyebutnya acara yang tidak disiapkan, tapi berhasil membuat para peserta live in menangis terharu. Kenangan demi kenangan selama 4 hari berada di desa Cuwelo kembali teringat. Kebersamaan yang terjalin, kasih sayang yang diberikan, membuat mereka merasa tidak ingin pulang. Walau susah hidup di desa, tapi kami tetap merasakan kebahagiaan.
            Pelukan dan ucapan terima kasih kami berikan untuk warga yang hadir saat itu. Hanya hal kecil yang saat itu dapat kami berikan. Hal yang tidak sebanding dengan pengalaman yang telah kami dapatkan di desa. Cuwelo, yang berarti Cuwilane Solo tidak berarti sama untuk kami. Bagi kami Cuwelo merupakan cuwilan hati kami, yang telah memberikan kami pelajaran berharga juga kebahagiaan.
            Malam terakhir kami yang penuh tangis kebahagiaan dan perasaan tak ingin meninggalkan desa, di taburi bintang indah di langit malam.





Bagi saya sendiri, live in selama seminggu awalnya merupakan hal yang sulit, namun setelah di jalani ternyata bukan hal yang sulit. Saya tidak membayangkan bahwa saya akan merasakan hal yang justru saya tidak dapat di keluarga saya saat ini. Orang yang baru bertemu selama 5 hari bisa begitu sayang kepada saya, begitu peduli kepada saya, bahkan khawatir jika saya pulang telat. Sedangkan saya di rumah tidak seperti itu. Saya merasa live in sangat berguna bagi saya. Selain saya merasakan hal yang tadi saya sebutkan, saya juga dapat melihat kembali bagaimana saya harus berbuat. Emak Kardinem, yang menjadi ibu angkat saya, memang bukan orang kaya. Dia harus bekerja di ladang dan memelihara sapi. Saya merasakan sendiri bagaimana susahnya kerja di ladang, dan hidup dengan air yang terbatas. Tetapi emak sama sekali tidak pernah mengeluh, walaupun dia pernah bilang bahwa hidup di kota tidak usah bekerja karena ada anaknya jadi bisa lebih enak, tapi sama sekali tidak pernah menyatakan ketidaksukaannya bekerja di ladang. Dari situ saya belajar untuk menyukai setiap hal yang saya kerjakan, tidak hanya mengerjakan hal yang saya suka. Karena selama ini saya lebih sering mengerjakan hal yang saya suka. Tapi jika saya belajar untuk menyukai setiap hal yang saya kerjakan tanpa mengeluh, saya rasa saya akan lebih mudah dalam mengerjakan setiap hal. Jika saya terus mengeluh saya rasa hal yang saya kerjakan akan berasa lebih sulit. Maka dari itu saya akan belajar menyukai setiap hal yang saya kerjakan.

Pengalaman Baru - Erika Wijaya XIIB/3

Aku tak pernah membayangkan apalagi merasakan bagaimana rasanya hidup di desa. Hari-hariku selalu diisi dengan berbagai kesibukan. Aku tidak bisa lepas dari barang-barang elektronik kepunyaanku barang sehari pun. Tetapi kali ini ternyata sekolah mengadakan kegiatan yang belum pernah kubayangkan selama ini. Aku tidak terlalu bersemangat mengikuti kegiatan yang katanya bernama live in. Ya, memang aku kurang menyukainya karena aku dipaksa untuk keluar dari zona nyamanku. Perjalanan yang ditempuh sangat jauh lama dan melelahkan sebenarnya telah membuatku membayangkan hal-hal buruk yang akan kualami disana. Benar-benar menyebalkan. Akhirnya aku dan teman-teman sampai juga di Wonosari. Pagi itu terasa sangat melelahkan karena kami harus menghabiskan malam di dalam bus yang jalannya sangat cepat dan menganggu istirahat kami. Setelah mengikuti beberapa persiapan akhir, kami akhirnya dibawa menuju desa kami masing-masing menggunakan truk. Desa itu letaknya sangat jauh dan kami juga harus berdiri berdesak-desakan di atas truk. Teman-temanku banyak yang mengeluh karena lelah dan sempit begitu juga aku. Tetapi aku tetap menikmati perjalanan karena itu adalah kali pertama ku naik truk. Dari hal tersebut aku merasa senang dan orang-orang desa yang rumahnya akan kami tinggali juga menerima kami dengan ramah. Desa Jati. Tidak seburuk yang ku kira. Tempat itu bersih, sejuk dan nyaman. Saat itu sedang terjadi musim kemarau panjang sehingga matahari bersinar dengan teriknya. Tetapi angin tak kalah banyak disana sehingga udara tetap sejuk tidak seperti di Jakarta. Aku dan seorang teman tinggal di keluarga petani tetapi lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak mereka di rumah. Memang sesuai dengan keinginanku untuk mendapat keluarga petani karena kukira bekerja sebagai petani tidak sulit. Tetapi ternyata perkiraanku salah. Diawali dengan berjalan kaki dengan jarak jauh untuk sampai ke ladang sudah cukup melelahkan. Belum lagi harus bekerja di ladang yang ternyata benar-benar melelahkan dan panas tentu saja. Mereka bekerja dengan giatmeskipun lelah. Mereka tidak mengeluh seperti apa yang saya lakukan ketika lelah. Memalukan memang karena saya jauh lebih muda daripada mereka tetapi bekerja sedikit saja sudah mengeluh lelah. Upah yang mereka dapatkan tidak banyak. Hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari tetapi mereka menjalaninya dengan serius dan semangat. Keinginan mereka tidak berlebihan sehingga hidup mereka bisa dijalani dengan santai. Kehidupan mereka jauh dari ‘gadget’ seperti yang sehari-hari saya gunakan meskipun ada beberapa orang memilikinya. Ketika bosan, mereka berkumpul dengan masyarakat lain atau beristirahat. Mereka mengenal tetangga mereka dengan baik. Sangat berbeda jauh dengan kehidupanku sehari-hari. Aku bahkan tidak mengenal siapa yang tinggal di rumah sebelah. Pernah melihat pun tidak. Banyak sekali pelajaran hidup yang kudapat dari pengalaman live in ini. Bukan sesuatu yang merugikan ternyata dengan mencoba keluar dari zona nyaman karena dengan mencoba hal baru, kita bisa mengetahui apa yang terjadi di luar lingkungan sehari-hari dan belajar lebih peka lagi. 

Minggu, 15 September 2013

Aku, Masak dan Mbah Marinah - Yosephine Gunawan XIIB/9

“Pin, kuat ngga?”

Mataku terbelalak. Setelah berpesta dengan adrenalin saat mendaki bukit kini saatnya berpesta dengan rasa takut. Bukit terjal yang lumayan tinggi itu seakan menertawakan aku dalam diam. Dua pasang mata termasuk si pemilik suara melihatku dari bawah, menunggu. Aku hanya diam dan terpaku ditempatku tanpa sadar bahwa sapu ijuk yang awalnya berada dalam genggaman tangan kiriku kini telah berpindah ke tanah.

..........................................

Mbah Marinah lagi-lagi menyuruhku memasak. Ini sudah yang ketiga kalinya aku duduk di depan tungku yang menyala, menjaga agar apinya tidak padam, membalik-balik masakan di atas panci sambil sesekali mencicipinya. Aku mulai lelah mendapati asap mengepul di depan wajahku dan api yang membakar bulu di sekitar jemari dan betisku ditambah ritme kehidupan desa yang terasa lambat. Bosan.

Memasuki hari kedua di desa, aku mulai mengingat bayanganku tentang kehidupan desa. Menantang, penuh perjuangan, berpetualang dan keras. Aku ingin merasakan euforia seperti itu.

Lamunanku buyar ketika minyak panas dari panci melompat dan mengenai kulitku.

Akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepadanya tentang ladang singkong yang pernah ia ceritakan di hari pertama kami bertemu.

“Mbah, kalo ke ladang biasanya kapan?”

“(berbicara dalam bahasa Jawa)”

“Apa, Mbah?”

“Bebas, Pin. Nanti sore kayaknya pergi.”

“Jam berapa, Mbah? Sehabis pertemuan, saya sama Airin boleh ikut?”

Ia tersenyum tanpa perlu menjawab pertanyaanku. Bagiku ini sudah cukup.

Setelah pertemuan Live In dengan teman-teman sedesaku, Mbah Marinah menepati janjinya. Aku dan Airin diajak mendaki sebuah tempat yang penuh dengan batu-batu tajam sehingga aku dapat merasakan tajamnya yang menusuk telapak kaki. Tempat itu tidak terlalu tinggi namun cukup membuat nafasku terengah-engah. Aku tidak menghiraukan rasa itu. Pikiranku terlalu sibuk memikirkan petualangan yang akan terjadi.
Di tengah jalan Mbah mengentikan langkahnya kemudian ia mulai menuruni bukit terjal itu. Airin mengikuti setelahnya. Aku terdiam.

“MBAAAH?! MBAH SERIUS TURUN DISINI?!” teriakku dalam hati.

Perlahan aku menginjak batu-batu licin yang sepertinya mudah longsor sambil mengingat-ngingat bekas pijakkan mereka. Tak lama setelah aku melangkah beberapa kali, terdengar suara ‘bruk’. Aku terjatuh dengan kaki menahan badan sehingga menimbulkan rasa nyeri di bagian telapak kaki.

“Sakit ngga, Pin?” tanyanya dengan penuh kasih sayang yang kubalas hanya dengan acungan jempol sambil menahan rasa sakit.

Setelah menyelesaikan pekerjaanku di ladang yang sebenarnya hanya membakar sampah yang sudah dikumpulkan Airin dan Mbah, Mbah merebus singkong yang baru aku dan Airin cabut dari tanah. Rasanya sangat enak walaupun hanya memakannya dengan gula pasir dan garam.

Ibu segala bisa ini tampaknya sangat puas mendapati aku dan Airin memakan singkong buatannya dengan lahap sampai-sampai ia menyuruh kami untuk menghabiskan semuanya.

Esoknya lagi-lagi Mbah menyuruhku memasak tetapi kali ini berbeda. Mbah meninggalkanku berdua saja dirumah. Sebenarnya diantara kami berdua tidak ada yang benar-benar bisa dan tahu cara memasak yang benar sehingga muncul berbagai rasa kekhawatiran dari dalam diri kami masing-masing.

Selesai memasak dan mematikan tungku, aku berinisiatif untuk menyusul Mbah ke ladang dengan menggunakan jalan lain yang menurutku lebih aman. Kami melakukan pekerjaan yang sama seperti kemarin.
Saat perjalanan pulang menuju rumah Mbah, sebuah kejutan manis telah menanti dirumah. Anak Mbah yang ketiga bersama anak perempuannya mengunjungi Mbah. Aku langsung disambut dengan sangat hangat oleh mereka seakan kami adalah satu keluarga besar.

Namun sayang sekali mereka tidak menginap di rumah Mbah dan pulang sekitar pukul 3 sore. Sebelum mereka pulang, aku sempat diajari membuat utri dan memotong kelapa muda dari mereka.

“Bapak pekerjaannya apa, Pak?” tanyaku kepadanya.

“Saya, nganu, pembicara seminar. Seminar tentang pertanian.”

“Hebat banget, Pak.”

“Iya. Cari ilmu itu bisa dimana-mana lho, ngga cuma dari sekolah. Saya belajar dari majalah, aduh, itu loh yang tentang tumbuhan-tumbuhan itu.”

“Majalah? Majalah Trubus?”

“Nah, iya! Saya baca-baca dari situ dan ternyata ilmunya bisa kepake.”

Satu kata dariku untuknya: kagum.

Satu hal lagi yang membuatku cukup terharu adalah kami dibawakan ayam segar siap masak. Padahal menurut pastor yang menyambutku dan yang lainnya di paroki Wonosari, mereka jarang memakan makanan seperti daging, telur dan sebagainya.

Hari terakhir di dusun bolang, waktu terasa semakin cepat. Sepulangku dari pertemuan, Mbah memelukku dan Airin dengan sangat erat sambil menitikkan air mata.

“Hari ini Mbah seneng, besok senep. Pipin sama Arin udah pulang.” Satu kalimat yang membuatku semakin enggan berpisah dengannya, dengan dusun Bolang, dengan suasana dan atmosfirnya yang ada.

Ada sebuah pertemuan maka akan ada juga yang namanya perpisahan. Hukum mutlak yang menurutku adalah hal yang paling kejam di dunia ini.

..............................

Berat rasanya memikul tas ransel yang berisi baju-baju kotor bercampur bau keringat di tas. Namun lebih berat lagi rasanya berjalan meninggalkan dusun ini. Atmosfirnya, suasananya, bintangnya, awannya, langitnya, hewan-hewannya, orang-orangnya dan bahkan udaranya meninggalkan kesan tersendiri yang melekat dalam benakku.

Truk yang akan ku naikki sudah tiba untuk menjemput kami. Air mata berjatuhan tanda tak ingin berpisah. Aku ingin mengatakan selamat tinggal kepada Mbah tetapi kata itu seakan tidak bisa keluar dari leherku.



Perjalanan kami menuju paroki tidak jauh berbeda dengan saat kami pertama kali menuju dusun Bolang. Yang berbeda adalah ketika pertama kali kami menuju rumah masing-masing, truk itu membawa orang-orang dengan rasa penasaran yang besar. Namun ketika pulang, truk itu membawa orang-orang dengan pengalaman.